Kokokan ayam di pagi yang buta, membangunkanku dari tidur yang
lelap. ini adalah awal dari semua aktivitasku hari ini. Di pagi yang buta ini,
anak seusiaku pagi bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Namun, mereka
berbeda denganku yang harus memulai pagi dengan pekerjaan yang tak sepantasnya
aku lakukan, apalagi aku ini adalah seorang anak perempuan. Tapi apa daya,
nasib telah berkata lain.
Aku hanyalah seorang anak jalan atau yang lebih tepatnya remaja
jalanan. Aku bekerja sebagai penjual koran dan pengamen yang mempunyai mimpi
yang tinggi namun sangat tidak mungkin untuk bias kugapai.
Seandainya kejadian itu tidak terjadi. Ya, andai musibah kebakaran
itu tidak pernah ada dan kakek pun masih hidup, pasti aku tidak seperti ini.
Aku pasti bias melanjutkan sekolahku kejenjang lebih tinggi lagi, SMA. Akan
tetapi semua telah berubah. Kakek pergi meninggalkanku untuk selamanya. Kakek
terlalu cepat meninggalkanku sendiri di sini.
Saat semua itu terjadi aku merasa hidupku tidak berguna lagi,
semua orang yang dekat denganku pergi satu per satu. Menjaga kakek saja aku tak
becus. Orang tua kandungku saja membuangku. Sekarang pun aku tak tahu mereka
ada di mana. Kakeklah yang memungutku di jalanan dan membesarkanku hingga
sebesar ini.
Aku tak tahu harus berbuat apa lagi tanpa kakek. Aku bingung harus
bagaimana untuk menjalani hidupku ini. Aku sempat putus asa dengan semua
kejadian yang menimpaku. Tapi setelah di piker-pikir, keputus asaanku tidaklah
berguna. Semua itu hanya menyiksa batinku dan menambah beban di dalam hidupku.
Maka dari itu, aku harus bangkit dari keterpurukanku. Aku harus tegar
menghadapi semua ini walaupun seorang diri. Karena aku tahu dan aku menyadari,
itu semua hanyalah cobaan dari Sang Pencipta. Allah SWT. tidak akan memberi
cobaan yang melebihi kemampuan umat-Nya.
Menjual koran. Yah, itulah pekerjaan pertama yang harus kulakukan
di pagi hari ini. Di lampu merah tengah kota tempatku berjuang untuk menjual
semua koran yang ada di tanganku, dan di tempat ini pun aku harus berbaur
dengan debu dan polusi dari kendaraan-kendaraan bermotor yang lalu lalang di
lampu merah itu. Rasa iri terkadang muncul ketika melihat anak seusiaku pergi
bersekolah dengan teman-temannya yang lain.
Suatu hari ketika sedang asyik berjualankoran, aku bertemu dengan
seorang anak laki-laki. Kelihatanya dia kebingungan, aku pun segera
menolongnya. Anak itu bernama Adit. Dia memberikan selembar kertas padaku yang
bertuliskan sebuah alamat yang ingin ditujuinya. Aku pun memberitahukanya letak
alamat tersebut. Semenjak kejadian itu aku dan Adit bersahabat. Adit sangat
baik padaku, dia selalu ada disaat aku membutuhkanya. Dia selalu mengisi
kekosongan dalam hidupku. Bahakan dia pernah membantuku menjual koran dan
menemaniku mengamen di lampu merah dan warung-warung makan ketika malam hari.
Hari menejelang siang, waktunya aku untuk mengamen. Hari ini Adit
menemaniku. Membantuku mengamen dari satu kendaraan ke kendaraan yang lainnya
saat lampu merah menyala kembali. Waktu semakin sore, kami pun berhenti untuk
mengamen.
Keesokan harinya, Adit menemaniku lagi. Tetapi, kali ini berbeda
dari yang sebelumnya. Dia menemaniku dari pagi hingga sore hari. “Tidak seperti
biasanya Adit kayak gini” gumamku dalam hati. Menurutku kali ini dia berbeda,
tingkah lakunya semakin aneh. Tidak seperti biasanya dia begitu perhatian
padaku. Yah, walaupun dia baik padaku.
Adit senyum padaku “kamu capek ya ?” sambil berjalan mendekatiku,
“nih, makan. Dari tadi aku perhatikan kamu nggak makan. Ngirit sih ngirit by,
tapi nggak segitunya kali. Kamu juga harus peduliin kesehatan dong. Aby, Aby”
“Kamu tuh nggak lapar apa ? dari tadi nemenin
aku terus, nggak makan pula. Aku sih udah biasa kek gini, jadi ngak usah
khawatir deh !” jawabku sambil memberikan kembali makan itu kepadanya, “nih,
buat kamu saja !”
“Ya ampun Aby,
makanan ini buat kamu. Udah deh tenang aja, aku udah makan kok tadi.” Sambil
memberikan makanan itu lagi padaku. “makasih ya !” kataku.
“Adit, kamu nggak
capek apa ? lebih baik kamu pulang aja sana ke rumah, istirahat aja dulu,
lagian kan besok kamu kan ke sekolah.”
“Yaelah merintah.
Udah deh diam aja. Makan aja tu sampe abis. Lagian juga aku nggak ada kerjaan
kok di rumah. Lebih baik aku disini aja ama kamu, itung-itung ngebantuin gitu”
“Apa ngebantuin ? heh
nyusahin, iya kali ! hahahaha”
“Adit, kenapa sih
kamu berteman ama aku ? kamu beruntung, masih bias sekolah. Beda dengan aku,
setelah kakek nggak ada lagi, aku udah nggak bias ngelanjutin sekolah.
Sebenarnya aku masih ingin sekolah, tapi…. Ah sudahlah, kok aku jadi curhat ke
kamu ya ? hahaha”
Beberapa minggu telah berlalu, Adit selalu menemaniku. Hingga
akhirnya, dia menanyakan sesuatu padaku. Sesuatu yang tak pernah ingin aku
membahasnya. Yah benar, itu tentang kedua orang tuaku. Memang sudah alam aku
dan Adit berteman, tapi aku tidak pernah memberotahukanya, walaupun itu
mengenai kakek sekalipun, apalagi kedua orang tuaku. Saat dia bertanya, aku
hanya bias diam dan tak tahu harus menjawab apa. Akan tetapi, dia terus
memaksaku untuk menjawabnya. Hingga akhirnya, aku menceritakan semua kepadanya.
Tanpa terasa air mataku jatuh lagi. Air mata yang sudah lama aku tak tumpahkan,
kini tumpah lagi, dan semua itu terjadi di depan sahabatku sendiri.
“Kamu yang sabar ya,
nggak boleh nangis. Aku nggak suka lihat cewek yang cengeng, dan aku juga nggak
suka liat kamu nangis. Mana Aby yang dulu ? Aby yang selalu tegar dan ceria.
Udah yah !” saat itu aku hanya dapat terdiam menatapnya.
Hari menjelang malam, kali ini tidak mengamen karena Adit
mengajakku ke rumahnya. Sebenarnya sudah berulang-ulang kali dia mengajakku ke
rumahnya, tapi aku terus menolaknya. Saat ini aku tak bias menolak lagi, karena
dia terus memaksaku. Sesampainya didepan sebuah rumah, perasaan kagum sempat
menghinggap di benakku. “waow, ini rumah Adit ? Gede banget !” umbarku dalam
hati. “Dit kamu tinggal ama siapa di rumah segede ini ?” tanyaku padanya.
“Yuk ah, masuk aja
dulu. Entar di dalam baru aku jawab deh, dingin tahu di luar mulu.” Katanya
sambil tersenyum padaku. Adit terus menarik tanganku hingga masuk ke dalam
rumah tersebut. Aku hanya dapat mengikuti langkah kakinya saja. Sesampainya di
dalam rumah “Ma, mama, ma keluar dulu dong, kesini bentar deh !” teriaknya
sambil memegang erat tanganku dan membuat seisi rumah keluar. “Dit, kamu apaan
sih teriak-teriak. Eh, itu siapa ?” Tanya seorang wanita yang baru saja keluar
dari sebuah kamar. “mau tau aja.” Kata Adit kepada wanita itu. Tiba-tiba
keluarlah seorang wanita setengah baya dari dalam kamar. Menurutku wanita itu
ibunya Adit deh, “ada apa sih Dit, kok teriak-teriak ?” Tanya wanita itu.
“Iya nih ma,
teriak-teriak nggak jelas. Emang kamu piker di sini hutan apa ?”
“Eh Adit, itu siapa
nak ? Aby ya ?
“Hah ? jadi kamu yang
namanya Aby ? duh makasi banget ya, kamu udah bias ngerubah Adit ! oh iya, aku
Ciara. Kakaknya Adit. Adit itu bandel loh, keras kepala. Nggak tahu deh kenapa
dia kayak gitu. Perasaan dari keluarga kita nggak ada deh yang sifatnya kayak
gitu ! hehehe”
“Iya, a-aku Aby”
jawabku sedikit terbatah dan agak
bingung. Duh Adit ngomong apan sih sama keluarganya ?
“Diam, ih si cerewet.
Perasaan nggak ada juga deh keluarga kita yang cerewet seperti kamu. Oh ya ma,
gimana rencana kita ? bolehkan ma ?” Tanya Adit. Wanita setengah baya itu
kembali memalingkanpandanganya ke arahku “Iya boleh.”
“Makasih ma” jawab
Adit.
Duh apa yang mereka rencanakan ? kenapa Adit sesenang ini ? semua
pertanyaan-pertanyaan itu membuatku semakin bingung. Adit kembali menarik
tanganku lagi, memaksaku untuk mengikutinya lagi.
“Sekarang pertanyaan
kamu yang tadi sudah kejawabkan ?”
“Emm, iya udah. Tapi
apa sih maksud kamu ngajak aku ke sini ?”
“sekarang kamu
tinggal di sini ya. Pokoknya nggak pakai alasan. Kamu harus tinggal di sini.”
Kata Adit, yang membuat aku kaget dan terdiam untuk sesaat.
“Tapi Dit…”
“Udah, nggak ada
tapi-tapian” katanya yang langsung memotong perkataanku. “keluarga kamu ? mama
kamu ?
“Mereka setuju,
lagian mama kok yang nyuruh aku. Pokoknya harus mau ya !”
“Iya By, kamu tinggal
di sini aja, biar ada teman aku gitu ngejailin Adit.” Sambung Ciara yang
tiba-tiba muncul dari belakang. Setalah perbincangan yang panajang dan juga
Adit dan Ciara terus memaksaku dan menjelaskan semua alasanya untuk mengajakku
tinggal di rumah mereka, akhirnya aku menyetujui semuanya.
Ya, seperti kata Adit dan permintaan Ciara, aku harus tinggal di
rumah mereka. Sebenarnya aku nggak mau, tapi Adit terus saja memaksaku. Adit
itu memang keras kepala. Dia nggak bakalan berhenti mengejar sesuatu hingga ia
berhasil mendapatkanya. Sampai sekarang aku tinggal di rumah keluarganya. Aku
dan adit semakin dekat, dia memperlakukanku seperti adik sendiri. Begitu pula
dngan keluarganya yang lain, mereka semua sangat baik kepadaku. Oh iya,
semenjak tinggal di rumah Adit, aku mulai sekolah lagi, dan semuanya di biayai
keluarga Adit. Keluarga ini begitu baik, mereka menganggapku sudah seperti
keluarga sendiri.
===============S E
L E S
A I================